MYSNATURE GONE

Senin, 16 Juli 2012

Pulau Socotra di Tanduk Afrika

Pulau Socotra berada di lepas pantai timur laut Afrika (Tanduk Afrika), Pulau Socotra adalah pulau terbesar dari Tanah Sheba, panjangnya sekitar 120 km, lebar 40 km, dan berpenduduk 55 ribu orang. Socotra adalah anggota kelompok dari empat pulau terpencil, sedangkan lainnya adalah Abd Al-Kuri, Samha, dan Darsah. Tempat ini memiliki budaya dan bahasa distrik masing-masing. Penduduknya juga berkomunikasi dengan bahasa Arab-Yaman. Wilayah pesisir dihuni orang-orang Nomad dan keturunan Suku Arab Selatan yang berbicara dialek tua, Socotri, terkait dengan dialek Mahari. Lokasinya yang strategis membuat Socotra dipengaruhi oleh banyak kelompok berkebangsaan Afrika dan Eropa, termasuk Yunani, Portugis, dan Inggris.

Socotra lebih erat kaitannya dengan Afrika daripada Arab, membuatnya menjadi pulau yang unik. Pemisahan dari Afrika kira-kira terjadi 6 juta tahun lalu. Sebagai hasilnya, banyak hewan dan tanaman yang hidup di pulau saat ini merupakan spesies endemik, tak dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Diyakini, beberapa tanaman dan hewan Socotra adalah peninggalan relik kuno dari daratan yang lebih besar yang telah disimpan di sini sebagai akibat dari fakta bahwa Massif Haghir belum sepenuhnya terendam selama setidaknya 135 juta tahun. Tidak adanya mamalia asli dilaporkan kemudian sebagai indikasi lebih jauh mengenai asal usul pulau yang sangatkuno, mungkin dari waktu sebelum mamalia muncul di bumi.

Pohon Darah Naga
Socotra, rumah bagi lebih dari 900 spesies tanaman, yang 305 diantaranya endemik. Dr.Tony Miller yang bekerja di Royal Botanical Garden, Edinburg, baru-baru ini mengoleksi spesimen pertama yang dikenal sebagai tanaman karnivora mungil, yang tumbuh pada batang pohon lembap. Tanaman ini mencapai ukuran lebih tinggi di Pegunungan Haggier. Salah satu tanaman terkenal yang membuat penasaran adalah Pohon Darah Naga. Pohon itu diberi nama demikian karena luka apa pun yang menggores pohon ini akan menghasilkan cairan merah yang keluar dari luka tersebut. Hal ini dibandingkan masa lalu sebagai darah naga. Pada awal peradaban Yunani, Romawi, dan Arab, diyakini bahwa cairan ini memiliki manfaat medis, dan di Italia pada tahun 1700-an darah naga dipakai sebagai pewarna kayu dalam pembuatan biola. Kini, darah naga kadang-kadang masih digunakan dalam proses fotografi khusus.

Oleh karena angin moonson yang bertiup terus-menerus, banyak serangga berevolusi dengan sayap-sayap yang lebih kecil, sebagai adaptasi, mencegah mereka tertiup ke laut. Paling tidak, sevesar 80% reptil Socotra adalah hewan endemik dan herpetologis percaya bahwa masih ada beberapa yang belum ditemukan di pulau. Sebanyak 145 spesies burung tercatat di sini, 8 diantaranya hanya dapat ditemukan di pulau, termasuk Socotra Bunting, Socotra Starling, Socotra Sunbird, Socotra Sparrow, Socotra Warbler, dan Socotra Cisticola.


Pulau Socotra dikelilingi oleh laut dengan paus dan lumba-lumba, seperti paus spermaseti, paus pilot bersirip pendek, dan lumba-lumba berhidung botol -- senua tampak dekat dengan pantai. Perairan Socotra berlimpah ikan, mulai dari penghuni terumbu karang-terang kecil hingga hiu-paus yang panjangnya lebih dari 15 meter.

Pribumi Socotra adalah orang-orang yang sederhana, baik, dan ramah terhadap wisatawan. Meski demikian, karena Pulau Socotra adalah pulau yang dilindungi kelestariannya, di tempat ini hampir tidak dibangun sekitar beberapa tahun lalu, dengan perjanjian alot antara Pemerintah Yaman dengan UNESCO.