MYSNATURE GONE

Selasa, 04 Desember 2012

Perbandingan Bumi dan Mars

Bumi dan Mars
Mars adalah planet yang sangat berbeda dari Bumi. Mars berjarak 228 juta km dari Matahari, sedangkan Bumi berjarak 150 juta km. Karena berjarak lebih jauh, Mars memerlukan waktu 687 hari untuk mengorbit Matahari, sedangkan Bumi hanya memerlukan waktu 365 hari. Massa Mars hanya 1/10 massa Bumi dan diameternya yang 6.790 km hanya setengah dari diameter Bumi (12.756 km). Malam di Mars sangat dingin -- sedingin Kutub di Bumi. Musim dingin di Mars lebih dingin daripada musim dingin di Bumi.

Suhu di Mars dapat turun drastis menjadi -125°C, cukup dingin untuk membekukan gas karbon dioksida di atmosfer. Tidak ada oksigen di Mars, sehingga tidak ada manusia yang bisa hidup di sana tanpa menggunakan pakaian luar angkasa. Bumi memiliki satu bulan, tetapi Mars mempunyaa dua bulan/satelit, Deimos dan Phobos.

Planet Mars
Mars yang dilihat dari teleskop Hubble.
Meskipun demikian, ada juga kesamaan antara kedua planet ini. Seperti Bumi, Mars memiliki ngarai dan gunung berapi di atas permukaannya. Ngarai terpanjang, Valles Marineris, dapat memuat Grand Canyon, di Amerika Serikat. Gunung tertinggi di Mars disebut Olymus Mons dan tiga kali lebih tinggi dari Mount Everest. Pada tahun 1976, sebuah foto diambil oleh wahana ruang angkasa Viking menunjukkan gambar yang dianggap oleh sebagian orang sebagai muka raksasa dari batu Mars. Foto-foto berikutnya menunjukkan bahwa itu adalah bukit berbatu.

Pada akhir abad ke-19, astronom Italia, Giovanni Schiaparelli mengira telah menemukan kesamaan lain antara Bumi dan Mars. Dengan melihat melalui teleskop, dia mengira telah melihat terusan di Mars. Ini sangat mengejutkannya. Apakah ini berarti bahwa pernah ada atau telah ada kehidupan di Mars? Namun, penelitian selanjutnya membuktikan bahwa tidak ada terusan dan dipercaya bahwa yang dia lihat mungkin adalah jejak pasir yang berpindah atau jejak tiupan angin.

Yeti

Pada tahun 1921, Letnan Kolonel Charles Kenneth Howard-Bury, seorang tentara Inggris yang memimpin suatu ekspedisi pendakian Gunung Everest, menceritakan suatu kisah yang penuh tanda tanya. Timnya telah menyusuri bagian utara gunung itu ketika mereka melihat ada satu sosok gelap yang bergerak di permukaan bersalju dia atas mereka. Ketika mereka menjelajahi lokasi di mana sosok itu terlihat, satu-satunya tanda yang ditemukan adalah jejak kaki yang mirip jejak kaki manusia, tetapi besar dan bentuknya tidak lazim. Howard-Bury mengatakan bahwa orang-orang Sherpa yang menjadi pemandu mereka itu menyebut makhluk itu "Metoh-Kangmi". Yang jika diterjemahkan, berarti "Manusia Salju yang Mengerikan."

Sebenarnya, "Metoh-Kongmi" adalah suatu sebutan kolektif untuk tiga makhluk yang misterius. Secara individu, mereka memiliki nama masing-masing -- "Dzu Teh," seekor binatang yang besar dan berbulu lebat, para ahli yakin bahwa sebenarnya ini adalah salah satu jenis beruang langka di wilayah itu. "Thelma," yang dianggap sebagai spesies gibbon, dan "Meh-Teh" atau "Yeh-Teh," "manusia-binatang" atau "penghuni gunung batu." Binatang yang terakhir inilah yang paling misterius. Dia dideskripsikan sebagai makhluk yang tingginya antara 1,5 - 2 meter, dengan rambut kemerahan, sepasang lengan yang panjang menjuntai, kepala yang bentuknya mirip kerucut dan berwajah seperti manusia. "Yeh-Teh" inilah yang sekarang kita kenal sebagai Yeti.

Pada tahun 1925, seorang fotografer Yunani yang bernama N.A. Tombazi sedang melakukan ekspedisi ke Himalaya ketika salah seorang Sherpa pemandunya menunjuk pada satu sosok di kejauhan. Tombazi mengatakan bahwa makhluk itu berdiri dengan tegak, seperti manusia, dan sedang menarik-narik tumbuhan rhododendron. Binatang itu menghilang sebelum Tombazi sempat merekamnya, tetapi rombongan itu menuju ke wilayah di mana makhluk itu pernah terlihat dan mereka menemukan jejak-jejak kaki yang aneh dan mirip kaki manusia. Pada tahun-tahun berikutnya, ada banyak laporan tentang jejak-jejak aneh di atas permukaan salju.

Pada tahun 1951, pendaki-pendaki berpengalaman, Eric Shipton dan Michael Ward, ikut serta dalam kelompok Ekspedisi Penjelajahan Everest. Mereka sedang berusaha untuk mencari rute yang paling baik untuk mendaki gunung itu ketika mereka menemukan serangkaian jejak kaki yang masih baru dan tidak lazim. Shipton dan Ward memotret jejak kaki yang berukuran 33 x 45 cm, dan menelusuri jejak-jejak itu sampai ke bagian di mana jejak itu menghilang. Sir Edmund Hilary dan Sherpa Tenzing Norgay, dua pengunjung Everest paling terkenal, menemukan jejak-jejak kaki raksasa dalam perjalanan mereka menuju puncak Everest pada tahun 1953. Ini adalah berita yang menarik, karena seharusnya ayah Norgay sempat bertemu dengan seekor Yeti, beberapa saat sebelum dia meninggal; kemudian Hilary memimpin suatu upaya pencarian unutk menemukan bukti dari keberadaan Yeti.

Mungkinkah ini jejak kaki seekor Yeti?
Ketika ekspedisi Yeti yang dilakukan oleh Hilary pada tahun 1960 tidak menemukan apa pun, dia menyatakan bahwa binatang itu tidak lebih dari sekedar cerita rakyat tentang hal-hal gaib. Tetapi banyak pakar yang merasa bahwa Hilary terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bahkan rekan Hilary dalam misi itu, Desmond Doig, mengatakan bahwa ekspedisi itu terlalu besar dan tidak terkoordinasi dengan baik. Doig sependapat bahwa mereka memang tidak bertemu dengan Yeti, tetapi mereka juga tidak melihat adanya leopard salju, yang keberadaannya sudah tidak diragukan lagi.

Ekspedisi yang gagal ini memadamkan banyak minat orang terhadap Yeti, tetapi dalam beberapa tahun kemudian, ada lebih banyak jejak kaki aneh yang ditemukan. Pada tahun 1974, ada laporan bahwa salah satu dari makhluk itu menyerang seorang gadis Sherpa yang sedang menggembalakan yaks-nya, dan menewaskan sepasang hewan peliharaannya itu. Kemudian, pada bulan Maret 1986, Tony Woodbridge, seorang fisikawan Inggris melakukan proyek lari solo yang disponsori untuk mengelilingi Himalaya, dia mendapat suatu pengalaman yang luar biasa,  yaitu bertemu muka dengan monster itu. Sehari sebelumnya, sebenarnya Woodbridge telah melihat jejak-jejak kaki itu, tetapi dia tidak terlalu memedulikannya sampai dia mendengar suatu gemuruh yang seperti suara salju longsor.

Ketika dia menelusuri jejak-jejak aneh itu lebih jauh lagi, ternyata memang ada salju yang benar-benar longsor, menciptakan sebuah tembok beku yang tak tertembus. Anehnya, itu terlihat seperti sesuatu yang telah berguling menuruni permukaan bersalju. Woodbridge mengikuti jejak-jejak kaki itu sampai ke jejak yang terakhir, dan 150 meter dari situ, dia melihat sosok makhluk besar yang berbulu, kokoh, dan berdiri dengan tegak. Makhluk itu tidak bergerak sedikit pun, dan Woodbridge cukup beruntung karena dia membawa kamera. Sayangnya, meskipun Woodbridge telah memberikan pengakuan yang meyakinkan, tetapi pengamatan yang seksama terhadap foto-fotonya menimbulkan keraguan terhadap apa yang dikatakan Woodbridge, sehingga ada pendapat bahwa sebenarnya yang dipotret Woodbridge hanyalah sebuah pohon tumbang.

Meskipun peristiwa-peristiwa perjumpaan seperti itu tidak dapat mempengaruhi keyakinan orang-orang yang skeptis, tetapi banyak pakar yang setuju terhadap pendapat bahwa ada sesosok spesies kera yang tinggal tidak terlalu jauh dari komunitas manusia. Beberapa spesies dari jenis ternak liar dan rusa hutan baru ditemukan dalam sepuluh tahun terakhir ini. Ada kemungkinan bahwa makhluk-makhluk seperti Yeti, yang merupakan keturunan kera prasejarah mungkin sedang berkeliaran di suatu bagian bumi ini dan sama sekali belum diketahui keberadaannya. Apa pun yang dibuktikan oleh para ilmuwan dan para pakar, orang-orang Sherpa telah percaya bahwa di atas gunung itu, mereka tidak sendirian.