MYSNATURE GONE

Sabtu, 28 Juli 2012

Ogopogo

Biasanya ada suatu imbalan yang menyertai kepala para penjahat buron. Sekarang, binatang-binatang mistis tampaknya juga menjadi objek kesukaan para pemburu imbalan. Antara bulan Agustus 2000 hingga September 2001, tiga perusahaan dari sekitar Danau Okanegan menjanjikan $2 juta bagi siapa pun yang dapat menemukan bukti hidup yang nyata bahwa monster Ogopogo yang banyak diceritakan orang itu benar-benar ada. Kejahatan yang dilakukan makhluk ini sulit untuk dikatakan, meskipun ada cerita-cerita bahwa makhluk itu menangkap dan membunuh warga setempat yang tidak berdaya di danau. Tidak dapat disangkal lagi bahwa Ogopogo adalah penyerang berantai yang meresahkan masyarakat.

Danau Okanegan ada di British Columbia, Kanada. Panjangnya sekitar 160 km, dengan kedalaman hampir 300 meter. Suku asli wilayah itu, yaitu suku Salish, percaya pada seekor ular yang menakutkan yang mereka sebut sebagai "N'ha-a-tik", alias "Setan Laut". Mereka mengatakan bahwa makhluk itu tinggal dalam sebuah goa yang lokasinya dekat dengan bagian tengah danau, dan mereka sering mempersembahkan korban-korban untuk menyenangkan si monster. Para pendatang dari Eropa biasanya suka menertawakan legenda itu, tetapi seiring berjalannya waktu, Ogopogo telah mengukuhkan dirinya di benak banyak orang yang tinggal di sekitar danau itu.

Sejak pertengahan tahun 1800-an, para imigran kulit putih mulai melihat fenomena aneh di danau itu. salah satu dari cerita-cerita utama mereka adalah tentang seorang pria yang menyeberangi danau itu bersama dua ekor kudanya yang sudah diikat, yang berenang di belakangnya. Tiba-tiba ada tenaga aneh yang menarik kedua kuda itu ke dalam air, dan pria itu hanya dapat menyelamatkan diri dengan memotong tali yang mengikat dia dengan kedua kudanya itu.

Para saksi mata mengatakan bahwa makhluk itu panjangnya mencapai lebih dari 15 meter, dengan kulit berwarna hijau, beberapa punuk, dan kepala yang mirip kuda dansangat besar. beberapa orang mencoba untuk melihatnya dari jarak dekat ketika dia sedang melahap tanaman air; mereka mengatakan bahwa Ogopogo memiliki kaki-kaki atau sirip-sirip kecil. Mungkin itu adalah "sepupu" Monster Loch Ness yang tinggal di Amerika Utara. Kebanyakan penampakan itu berasal dari daerah sekitar kota Kelowna, dekat bagian tengah danau itu, dan banyak pengamat monster yang sekarang sependapat bahwa sepertinya makhluk itu tinggal di wilayah yang diceritakan dalam legenda masyarakat setempat.

Jumat, 20 Juli 2012

Mothman

Monster ini tingginya mencapai sekitar 7 kaki (2,14 meter) dan memiliki ciri-ciri yang mirip manusia, tegap, dengan sepasang mata merah yang berkilau dan sepasang sayap besar berwarna cokelat, dia dapat naik melesat ke langit dari posisi berdiri, dan terbang dalam kecepatan yang menakjubkan, dan memutilasi binatang-binatang korbannya, dan langsung menebar ketakutan dalam hati orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi, selama lebih dari setahun pada pertengahan tahun 1960-an, lebih dari 100 penduduk--yang kesaksiannya dapat dipercaya--sebuah kota di West Virginia, melihat dengan jelas sosok mengerikan yang meneror komunitas mereka itu. Mereka melihat "Mothman".

Berdasarkan laporan pada awal bulan November 1966, ada banyak penampakan dari "burung aneh yang sangat besar di sekitar Point Pleasant, West Virginia, Amerika Serikat. Pada November 1966, lima orang penggali makam melaporkan bahwa mereka melihat "manusia berwarna cokelat" terbang di pepohonan dekat mereka dan melayang di atas kepala mereka. Tiga tahun kemudian, makhluk itu benar-benar menebar ketakutan di antara warga setempat dengan penampakan dari jarak dekat.

Pada 15 November 1966, dua pasangan muda sedang berkendara bersama di dekat Suaka Margasatwa McClintic, di luar kota Point Pleasant. Belakangan pada sore itu, kedua pasangan itu, melaju mendekati sebuah bekas pabrik generator dan melihat bahwa pintunya terlihat seperti terkoyak. Pada saat itulah mereka melihat bahwa dari tengah keremangan sore itu, ada sepasang mata yang sangat besar yang menatap mereka. Mata besar yang menatap tajam dan seolah menghipnotis itu adalah milik sosok yang menurut mereka bentuknya seperti manusia, tetapi lebih besar, mungkin tingginya 180-210 cm, dan dipunggungnya ada sepasang sayap lebar yang terlipat.

Ketika makhluk itu mendekat, kedua pasangan muda itu segera ngebut menjauh, tetapi ketika mereka melihat ke belakang, mereka melihat makhluk itu melayang di udara, melesat lurus ke atas tanpa mengepakkan sayapnya. Sayapnya selebar 3 meter lebih, dan dia dapat mengikuti laju mobil mereka, meskipun mobil itu sudah dipacu dalam kecepatan 160 km/jam. Akhirnya, mereka sampai ke perbatasan kota Point Pleasant, dan makhluk itu berbalik arah dan menghilang. Kemudian mereka langsung menuju kantor polisi setempat dan melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Meskipun polisi setempat tidak menemukan apa-apa di tempat pasangan muda itu melihat makhluk misterius itu, mereka menerima bahwa kedua pasangan itu telah melihat sesuatu.

Dalam beberapa hari berikutnya, laporan-laporan tentang seekor burung raksasa yang meneror warga setempat pun berdatangan ke markas polisi, dengan frekuensi yang semakin meningkat. Para penumpang mobil mengalami kejadian-kejadian di mana makhluk itu menukik turun dari udara ke arah mereka, dan penerimaan sinyal radio di sekitar wilayah itu pun mengalami gangguan. Ada seorang pria yang tinggal di Salom, 144 km dari Point Pleasant, tayangan televisi mengalami gangguan berat. Saat televisinya benar-benar tidak dapat menangkap sinyal lagi, anjingnya mendengking dari beranda. Kemudian orang itu keluar untuk memeriksa keadaan, dan dia melihat dua sorotan cahaya merah yang berkilau di gudang jeraminya, tepat pada saat itu, anjingnya lari ketakutan. Orang ini pun didera ketakutan, dia kembali ke rumahnya, mengunci semua pintu dan jendela. Malam itu, dia tidur dengan senapan di sampingnya. Sejak saat itu, anjingnya tidak pernah terlihat lagi.

Mungkin cerita yang paling mengerikan tentang Mothman terjadi pada 18 November 1966. Seorang ibu muda sedang mengendarai mobilnya untuk menemui beberapa temannya, yang salah satunya bertempat tinggal di dekat kompleks TNT (di sana hanya ada sedikit rumah). Wanita ini mengatakan bahwa dia telah melihat suatu cahaya merah yang aneh di udara, dan ketika dia tiba di rumah temannya, dia mendengar suara berderak di dekat mobilnya.

"Tampaknya seolah dia berbaring. Lalu bangun perlahan dari tanah. Sesuatu yang besar, berwarna abu-abu. Lebih besar dari manusia dengan mata berkilau yang mengerikan."

Dengan ketakutan, dia segera menggendong putri kecilnya dan lari masuk ke rumah, mengunci semua pintu. Makhluk itu mengikutinya, merangkak ke beranda, mengintip ke dalam melalui jendela-jendela rumah itu. Wanita itu menelepon polisi, tetapi ketika mereka tiba, Mothman itu sudah menghilang.

Tahun berikutnya, ada banyak saksi mata yang melihat kemunculan Mothman. Saksi mata antara lain adalah petugas-petugas pemadam kebakaran dan para pilot. Secara bertahap, laporan-laporan itu berganti menjadi kasus UFO, cahaya-cahaya aneh, dan "Orang-Orang Berbaju Hitam". Pada 15 Desember 1967, pukul 17.00, Silver Bridge yang menghubungkan Point Pleasant dengan Ohio tiba-tiba runtuh, kejadian itu menewaskan 46 orang, dan mau tidak mau, warga Point Pleasant harus berhadapan dengan kengerian yang sesungguhnya, bukan sekedar binatang buas dalam mitos. Akhirnya, kejayaan makhluk itu dalam menebar kengerian pun memudar, dan dia pun terlupakan. akan tetapi, banyak orang masih percaya bahwa runtuhnya jembatan itu mungkin merupakan aksi besar terakhir Mothman. 


Rabu, 18 Juli 2012

Cacing Maut dari Mongolia

Di bawah bukit-bukit pasir yang panas di Gurun Gobi, bersembunyi sesosok makhluk yang sangat ditakuti oleh orang-orang Mongolia, sehingga untuk menyebutkan namanya pun mereka tidak berani. Ketika mereka menyebut nama makhluk itu, mereka menyebutnya "Allghoikhorkhoi", yang berarti "Cacing Usus" karena monster yang seperti ular, gemuk, merah, dan mematikan ini tampak mirip dengan usus sapi. Cacing raksasa yang panjangnya bisa mencapai 1,20 meter ini dapat membunuh orang dalam sekejap. Bagaimana dia melakukannya, tidak ada seorang pun yang tahu. Beberapa orang yakin bahwa cacing ini meludahkan racun yang mematikan, sementara orang-orang lainnya mengatakan bahwa cacing itu dapat mengalirkan sengatan listrik besar. Ketika makhluk ini membunuh mangsanya, maka dia melakukannya dengan sangat cepat, dan dia dapta melakukannya dari jarak yang jauh. Dunia Barat menyebut monster ini sebagai "Mongolian Deathworm".

Orang-orang nomaden Mongolia percaya bahwa cacing raksasa ini membungkus mangsanya dengan suatu zat asam yang dapat mengubah warna semuanya menjadi kuning karatan. Legenda mengatakan bahwa ketika makhluk ini mulai menyerang, dia akan mengangkat separuh tubuhnya dari pasir dan mulai mengembang sampai meletus, melepaskan racun yang mematikan ke seluruh tubuh mangsanya yang malang. Racun itu sangat mematikan sehingga mangsanya dapat mati seketika.

Sebuah lukisan dari Cacing Maut Mongolia
yang dilukis oleh pelukis Belgia, Pieter Dirkx.
Karena Mongolia pernah berada di bawah pemerintahan Soviet sampai tahun 1990, orang-orang dari dunia Barat kurang begitu mengetahui tentang Cacing Maut ini. Dalam tahun-tahun belakangan ini, para peneliti sudah dapat mencari bukti dari keberadaan makhluk ini. Ivan Mackerle, salah seorang detektif ternama yang menyelidiki tentang Monster Danau Ness, mempelajari tentang wilayah itu dan mewawancarai banyak orang Mongolia tentang cacing itu. Berdasarkan laporan dari sedikitnya penampakan makhluk ini dan kematian-kematian yang aneh, akhirnya dia mebarik kesimpulan bahwa Cacing Maut ini bukan legenda semata. Tidak ada seorang pun yang tahu pasti tentang apa sebenarnya cacing itu. Para ahli yakin bahwa itu sebenarnya bukan cacing, karena Gurun Gobi adalah wilayah yang terlalu panas bagi jenis annelida untuk dapat bertahan hidup di situ. Beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa mungkin itu adalah kadal bertubuh lunak, tetapi kadal memiliki kaki kecil yang bersisik, sementara laporan-laporan dari para saksi mata mengatakan bahwa binatang ini tidak memiliki tangan maupun kaki, dan tubuhnya halus. Penjelasan yang paling memungkinkan adalah bahwa binatang ini termasuk jenis ular berbisa. Meskipun orang-orang Mongol sudah tidak ragu lagi akan karakteristik Cacing Maut ini, tetapi masih diperlukan riset bertahun-tahun lagi untuk memuaskan keingintahuan komunitas ilmiah dunia.

Fenomena Lusca & St. Augusta

 Di sekitar pantai Bahama dan Amerika tenggara ada cerita tentang gurita raksasa yang menangkap orang-orang yang berenang dengan perahu-perahu kecil yang tidak waspada. Orang-orang di pulau itu menyebutnya "Lusca" dan percaya bahwa makhluk itu hidup dalam goa-goa di bagian laut yang dalam. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang pernah melihat makhluk itu dalam lingkungan alaminya dan selamat untuk dapat menceritakan pengalamannya.

Suatu petang, pada bulan November 1896, dua orang pria sedang bersepeda di sepanjang pinggiran pantai yang letaknya sedikit di luar kota asal mereka, St. Augustine, Florida. Ketika mereka melihat ke pantai, mereka melihat seonggok bangkai yang sangat besar. Panjangnya 7 meter, lebarnya 5,5 meter, tingginya 1,2 meter, dan terlihat mempunyai banyak kaki. Kedua orang itu kepada Dr. Dewitt Webb, pendiri St. Augustine Historical Society dan Institut Sains, yang datang untuk memeriksa bangkai itu.

Webb memotret bangkai itu, dia mengamati bahwa kulit binatang itu berwarna merah muda keperakan, dan dia mengambil beberapa sampel. Webb mencatat bahwa kulit binatang itu tidak mempan terhadap kapak, tebalnya hampir 9 cm. Dia juga memperkirakan bahwa tubuh binatang itu beratnya sekitar 7 ton. Diperlukan empat ekor kuda dan sekumpulan masyarakat setempat untuk menyeret bangkai itu sejauh 12 meter ke tepi pantai untuk menjauhkannya dari ombak yang bergulung-gulung.

Webb yakin bahwa itu bukan bagian dari ikan paus, dan pasti makhluk itu adalah semacam gurita raksasa yang tak dikenal, jadi dia mengirimkan beberapa surat untuk menjelaskan tetntang bagkai itu kepada banyak ilmuwan ternama. Salah satu pakar yang dihubunginya adalah Profesor Verrill di Museum Nasional (yang sekarang di sebut Smithsonian) di Washington DC. Verrill mengatakan bahwa makhluk itu adalah cumi-cumi. Ketika Webb mengirimkan lebih banyak informasi kepada Verrill, dia berubah pikiran dan mengatakan bahwa makhluk itu adalah gurita. Verrill mengatakan bahwa tentakel gurita itu panjangnya mencapai 30,5 meter.

Verrill sendiri menolak untuk melihat bangkai makhluk itu, dia juga tidak bersedia memberikan dana atau sumber-sumber apa pun untuk mengawetkannya. Meskipun demikian, sang profesor memutuskan bahwa spesies baru itu seharusnya diberi nama seperti nama sang profesor, jadi dia menamakannya "Octopus Giganteous Verrill". Akhirnya, dia berubah pikiran lagi setelah menerima sampel jaringan tubuh binatang itu, dan dia mengatakan bahwa tubuh itu kemungkinan hanya kepala dari seekor sperma seekor ikan paus. Webb kecewa dan menyimpan sebanyak mungkin sampel dari bangkai itu. Akhirnya, bangkai itu terseret kembali ke laut.

Lebih dari 50 tahun kemudian, dua pakar biologi kelautan, Dr. F.G. Wood dan Dr. J.F. Gennaro Jr., menemukan cerita tentang monster laut St. Augustine dari beberapa kliping surat kabar lama. Mereka datang ke Smithsonian dan mengambil sampel dari spesimen asli yang pernah dikirim oleh Webb kepada Verrill. Wood pernah bekerja di Bahama dan dia tahu legenda dari "Lusca" terkenal itu. Legenda itu mengatakan bahwa makhluk itu adalah seekor gurita raksasa, dengan tangan yang panjangnya lebih dari 23 meter, yang hidup di lubang-lubang di palung laut. Dengan melihat sampel itu, Wood dan Gennaro dapat menarik kesimpulan bahwa itu adalah tubuh dari seekor gurita yang sangat besar. Akhirnya, pendapat Webb terbukti benar.

Tubuh seekor gurita yang sangat besar,
terdampar di pantai Florida. Apakah itu
benar-benar seekor Kraken?
Pada thun-tahun belakangan ini telah ditemukan contoh-contoh lain tentang makhluk yang sangat besar yang sebelumnya tidak dikenal. Cerita-cerita tentang cumi-cumi raksasa telah diceritakan turun temurun selama berabad-abad, tetapi baru pada abad terakhir inilah detail-detail yang akurat dan ilmiah benar-benar tercatat. Bahkan pada zaman ini, beberapa cerita yang paling ganjil masih tetap berkembang. Belum lama ini, beberapa nelayan Perancis diserang oleh sesosok makhluk laut yang berkaki banyak, dan para ahli biologi kelautan masih terus menemukan bangkai-bangkai cumi-cumi yang lebih besar dari yang sebelumnya dianggap sebagai cumi-cumi terbesar.

Pada saat itu, cumi-cumi raksasa yang terbesar ditemukan pada bulan April 2003 ketika ada seekor cumi-cumi yang sangat besar ditemukan di perairan Antartika. Contoh yang ditemukan itu masih belum dewasa, tetapi panjangnya sudah lebih dari 15 meter. Jika dibandingkan, gurita hanya seekor ikan yang sangat kecil, dan gurita yang terbesar ditangkap pada bulan Maret 2002, ukurannya hanya sekitar 4 meter. Jadi, makhluk yang ada di St. Augustine tetap merupakan fenomena yang tidak terjelaskan.  

Selasa, 17 Juli 2012

Big Grey Man

Di dataran tinggi Skotlandia ada sebuah gunung dimana banyak orang merasakan kengerian yang seperti belum pernah mereka alami sebelumnya. Ketika awan tebal dan kabut turun bergulung-gulung mengitari tebing-tebingnya, mereka mengatakan bahwa di sana bersembunyi sesosok makhluk yang sangat besar dan menakutkan. Mereka menyebutnya "Am Fear Liath Mor" atau "Big Grey Man". Beberapa orang melihatnya sebagai satu sosok tua berjubah, sosok raksasa, atau bahkan sosok iblis. Makhluk itu tidak hanya mengancam dengan suatu kekuatan fisik, tetapi binatang buas ini juga memancarkan suatu rasa kepanikan dan tertekan yang membuat semua orang yang mendekatinya nyaris bunuh diri.

Ben MacDhui adalah gunung tertinggi kedua di Skotlandia, menjulang di atas ketinggian lebih dari 4.000 kaki. Gunung ini memiliki pemandangan yang menakjubkan dan merupakan ujian besar bagi para pendaki berpengalaman. Banyak dari antara saksi mata yang melihat atau merasakan kehadiran Grey Man ini diantaranya para pendaki gunung yang serius, tegar, dan tidak mudah kabur. Orang pertama yang mengatakan bahwa dia telah bertemu dengan Grey Man ini adalah Profesor Norman Collie. Collie adalah seorang pendaki terkenal dan dihormati, tetapi ketika dia menyampaikan pidatonya di hadapan Cairngorm Club pada tahun 1925, pendengarnya benar-benar tercengang.

Collie menjelaskan bahwa dia sudah turun dari puncak MacDhui pada tahun 1891 ketika dia mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya. Pada mulanya, karena suasana diliputi kabut tipis, dia mengira bahwa itu adalah gema dari langkah kakinya sendiri. Tetapi akhirnya, dia sadar bahwa suara-suara yang didengarnya itu tidak ada hubungannya dengan suara langkah kakinya. Suara itu terdengar seolah ada sesosok raksasa yang mengikuti dia. Collie berkata bahwa itu membuatnya merasa ngeri.

     "Seolah seseorang sedang berjalan di belakang saya, tetapi langkahnya tiga atau empat kali              lebih panjang dari langkah saya."

Dengan ketakutan, Collie lari tunggang langgang sejauh empat mil menuruni gunung itu sampai dia tidak mendengar suara-suara langkah-langkah kaki itu lagi. Collie tidak pernah kembali lagi ke gunung itu sampai akhir hayatnya, dia yakin sekali bahwa ada "sesuatu yang sangat ganjil di Ben MacDhui".

Danau kecil di lereng perbukitan
gunung Ben MacDhui
Selama Perang Dunia II, Peter Densham bekerja sebagai petugas penyelamat di gunung, dia bertugas untuk menemukan lokasi dan menyelamatkan pilot-pilot yang mengalami kecelakaan pesawat di Cairngorms. Suatu  hari, dia sedang berada di puncak Ben MacDhui ketika kabut tebal mulai turun. Dia duduk dan menunggu sampai cuaca membaik. Beberapa saat kemudian, dia mendengar suara berderak yang aneh dan tiba-tiba saja dia mersakan sesuatu di dekatnya. Dia berdiri untuk memeriksa sekelilingnya, tetapi mendadak dia dicekam oleh suasana kepanikan. Sebelum menyadari apa yang terjadi, dia sudah berlari menuruni gunung, nyaris meluncur ke tepian tebing curam yang berbahaya. Setelah itu dia mengatakan, "Saya mencoba untuk menghentikan diri saya dan mendapati bahwa ini sulit sekali untuk dilakukan. Seolah ada seseorang yang mendorong saya. Akhirnya saya berhasil untuk berbelok arah, tetapi itu pun sangat sulit untuk saya lakukan."

Sejak saat itu, banyak orang melihat sosok makhluk yang aneh, atau merasakan suatu kengerian yang mencekam di area itu. Salah satu perjumpaan terbaru terjadi pada awal tahun 1900-an. Tiga orang pria sedang berjalan melintasi hutan di luar wilayah Aberdeen. Salah seorang dari mereka melihat sesosok mirip manusia yang berlari melintasi jalan setapak tidak jauh di depan mereka. Dia memberitahukan itu kepada teman-temannya, dan ketika mereka semua melihat ke arah yang sama, mereka melihat sosok aneh yang wajahnya tidak seperti manusia. Beberapa minggu kemudian, kelompok yang sama sedang berkendara melintasi daerah itu ketika mereka menyadari bahwa mereka diikuti oleh makhluk jangkung dan hitam yang sama. Makhluk itu dapat mengikuti laju mobil mereka, bahkan pada kecepatan 45 mil per jam, tetapi akhirnya dia kelelahan dan berhenti. Lagi-lagi, mereka mersakan suatu kengerian dan firasat buruk yang aneh.

Orang-orang yang antusias terhadap monster memiliki banyak pandangan tentang asal muasal binatang ini. Beberapa mengatakan bahwa mungkin makhluk itu adalah alien, atau hantu dari seorang penduduk asli Dataran Tinggi itu, atau bahkan sosok religius yang mistis dan bijaksana. Ada satu teori menarik yang mengatakan bahwa di puncak Ben MacDhui ada sebuah gerbang menuju dimensi lain, dan makhluk ini adalah penjaga gerbangynya. Jika ini benar, maka dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Setelah pengalaman dengan Big Grey Man itu, sedikit sekali orang yang berani mendaki Ben MacDhui lagi.

Senin, 16 Juli 2012

Pulau Socotra di Tanduk Afrika

Pulau Socotra berada di lepas pantai timur laut Afrika (Tanduk Afrika), Pulau Socotra adalah pulau terbesar dari Tanah Sheba, panjangnya sekitar 120 km, lebar 40 km, dan berpenduduk 55 ribu orang. Socotra adalah anggota kelompok dari empat pulau terpencil, sedangkan lainnya adalah Abd Al-Kuri, Samha, dan Darsah. Tempat ini memiliki budaya dan bahasa distrik masing-masing. Penduduknya juga berkomunikasi dengan bahasa Arab-Yaman. Wilayah pesisir dihuni orang-orang Nomad dan keturunan Suku Arab Selatan yang berbicara dialek tua, Socotri, terkait dengan dialek Mahari. Lokasinya yang strategis membuat Socotra dipengaruhi oleh banyak kelompok berkebangsaan Afrika dan Eropa, termasuk Yunani, Portugis, dan Inggris.

Socotra lebih erat kaitannya dengan Afrika daripada Arab, membuatnya menjadi pulau yang unik. Pemisahan dari Afrika kira-kira terjadi 6 juta tahun lalu. Sebagai hasilnya, banyak hewan dan tanaman yang hidup di pulau saat ini merupakan spesies endemik, tak dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Diyakini, beberapa tanaman dan hewan Socotra adalah peninggalan relik kuno dari daratan yang lebih besar yang telah disimpan di sini sebagai akibat dari fakta bahwa Massif Haghir belum sepenuhnya terendam selama setidaknya 135 juta tahun. Tidak adanya mamalia asli dilaporkan kemudian sebagai indikasi lebih jauh mengenai asal usul pulau yang sangatkuno, mungkin dari waktu sebelum mamalia muncul di bumi.

Pohon Darah Naga
Socotra, rumah bagi lebih dari 900 spesies tanaman, yang 305 diantaranya endemik. Dr.Tony Miller yang bekerja di Royal Botanical Garden, Edinburg, baru-baru ini mengoleksi spesimen pertama yang dikenal sebagai tanaman karnivora mungil, yang tumbuh pada batang pohon lembap. Tanaman ini mencapai ukuran lebih tinggi di Pegunungan Haggier. Salah satu tanaman terkenal yang membuat penasaran adalah Pohon Darah Naga. Pohon itu diberi nama demikian karena luka apa pun yang menggores pohon ini akan menghasilkan cairan merah yang keluar dari luka tersebut. Hal ini dibandingkan masa lalu sebagai darah naga. Pada awal peradaban Yunani, Romawi, dan Arab, diyakini bahwa cairan ini memiliki manfaat medis, dan di Italia pada tahun 1700-an darah naga dipakai sebagai pewarna kayu dalam pembuatan biola. Kini, darah naga kadang-kadang masih digunakan dalam proses fotografi khusus.

Oleh karena angin moonson yang bertiup terus-menerus, banyak serangga berevolusi dengan sayap-sayap yang lebih kecil, sebagai adaptasi, mencegah mereka tertiup ke laut. Paling tidak, sevesar 80% reptil Socotra adalah hewan endemik dan herpetologis percaya bahwa masih ada beberapa yang belum ditemukan di pulau. Sebanyak 145 spesies burung tercatat di sini, 8 diantaranya hanya dapat ditemukan di pulau, termasuk Socotra Bunting, Socotra Starling, Socotra Sunbird, Socotra Sparrow, Socotra Warbler, dan Socotra Cisticola.


Pulau Socotra dikelilingi oleh laut dengan paus dan lumba-lumba, seperti paus spermaseti, paus pilot bersirip pendek, dan lumba-lumba berhidung botol -- senua tampak dekat dengan pantai. Perairan Socotra berlimpah ikan, mulai dari penghuni terumbu karang-terang kecil hingga hiu-paus yang panjangnya lebih dari 15 meter.

Pribumi Socotra adalah orang-orang yang sederhana, baik, dan ramah terhadap wisatawan. Meski demikian, karena Pulau Socotra adalah pulau yang dilindungi kelestariannya, di tempat ini hampir tidak dibangun sekitar beberapa tahun lalu, dengan perjanjian alot antara Pemerintah Yaman dengan UNESCO.